Jumat, 08 Maret 2013

Senin, 03 Desember 2012

Sejarah Hidayatullah cabang Ketapang

Sebelum terbentuk cabang Hidayatullah di Kalbar Abdul Latief Usman, Anwari Hambali dan Usman Palese Sabtu 14 Oktober 1989, ditugaskan ke Pontianak untuk menemui Gubernur Kalbar, Pradjoko, sesuai harapan Pangdam VI Tanjungpura, Mayjen H.Z.A. Maulani untuk menghadirkan Hidayatullah di Kalbar. Gubernur menerima baik rencana Hidayatullah landing di Kalbar.
Akhirnya Muhammad Shabar ditugaskan ke Kalbar pada Hari Kamis 30 Agustus 1990. Dia diantar oleh Anwari Hambali yang kebetulan ada kakak iparnya berdomisili di ibukota Kalbar. Seminggu di rumah keluarga Anwari Hambali di Pontianak kemudian menuju ke Teluk Melano, Kecamatan Simpanghilir Kabupaten Ketapang. Tiba di Teluk Melano ditinggal oleh Anwari Hambali. Muhammad Shabar yang belum bersama istri itu tinggal di emperan Mesjid Babussa’adah yang dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Kegiatannya setiap hari adalah bersilaturrahim kepada pejabat-pejabat desa dan tokoh-tokoh masyarakat serta pejabat-pejabat tingkat Kecamatan.

Setelah berkenalan dengan tokoh-tokoh pengambil keputusan di tingkat desa dan kecamatan, Muhammad Shabar mengadakan pertemuan dibantu oleh Danramil Kecamatan Simpang Hilir dengan mengundang tokoh-tokoh masyarakat. Dalam pertemuan itu Muhammad Shabar sempat dikagetkan oleh suara Kepala Desa tetangga yang turut hadir mengatakan, “Masuk-masuk ke rumah orang harus memberisalam, dong !”. Maksudnya Muhammad Shabar masuk tanpa setahu dia. Namun Danramil tampil memberi penjelasan, Sekarang masalahnya Bapak-Bapak mau menghadirkan pesantren di kampung ini atau bagaimana?”. Hampir semua menyatakan setuju. Pada saat itu juga Dan Ramil meminta partisipasi berupa sumbangan langsung kepada tokoh-tokoh yang hadir. Lewat permintaan dana spontan itu berhasil terkumpul Rp 2.000.000.

Ketika Jenderal Z.A. Maulani, mantan Panglima Kodam VI Tanjungpura, hadir di Gunung Tembak pada Hari Ahad 2 September 1990 menemui Ustadz Abdullah Said berbincang-bincang tentang banyak hal terutama mengenai pengembangan da’wah di Kalbar, Jenderal yang bekas pengurus Pelajar Islam Indonesia (PII) itu menyerahkan sumbangan sebanyak Rp 17.000.000,- untuk pengembangan da’wah di Kalbar. Sebelumnya telah menyerahkan uang untuk maksud yag sama sebanyak Rp 22.000.000.

Pada Hari Jum’at 24 September 1990, resmilah berdiri Pondok Pesantren Hidayatullah di Ketapang. Modalnya baru 5 orang santri.

Setelah tujuh bulan lamanya tinggal diemperan mesjid akhirnya istri Muhammad Shabar, Nurmaidah dijemput di Jakarta karena Ibu Maisaroh, orang tua anggota KOWAVERI (Korps Wanita Veteran Republik Indonesia) yang sangat simpati kepada Hidayatullah, mengikutkannya dari Balikpapan. Setelah sang istri datang anak-anak yang ikut belajar malah banyak yang tidak mau ikut lagi. Dari 100 orang sisa 17 orang yang bertahan. Mereka menganggap bahwa tidak cocok lagi ikut belajar karena sudah ada istri Ustadz, diangap mengganggu. Muhamamad Shabar heran kenapa anak-anak bersikap seperti itu. Semestinya malah bertambah banyak karena istrinya sudah datang. Mungkin menyangkut tradisi.

Berbagai ujian yang dialami selama awal pembinaan. Pernah datang seorang yang mengaku rasul namanya Adi Wongso. Stelah menanamkan pengaruhnya orang-orang lalu disuruh bersyahadat dengan mengucapkan – asyhadu alla ilaha ilLallah wa asyhadu anna Adi Wongso rasulullah. Kerjanya memanfaatkan semua agama dengan mengadakan upacara pada hari Jum’at untuk orang Islam dan mengadakan upacara gereja pada hari Minggu untuk orang-orang Kristen dan ada juga upacara untuk orang-orang yang menganut keyakinan Kejawen.

Kedatangan wali setan ini juga ada imbasnya kepada pembinaan Muhammad Shabar, karena banyak masyarkat yang mengaitkan Muhammad Shabar dengan wali itu sehingga masyarakat yang tidak mengerti berniat menyerang Muhammad Shabar. Saat itulah Muhammad Shabar merasakan mantapnya do’a yang dipanjatkan kepada Allah SWT dan harapannya yang begitu besar kepada Allah SWT. Untungnya tidak lama kemudian MUI segera mengusirnya meninggalkan tempat itu. Muhammaed Shabar terkesan sekali dengan seorang Ibu yang menasihatinya agar, "Tidak usah khawatir, jalan saja terus, Insya Allah kita akan ditolong oleh Allah kalau kita bersungguh-sungguh menolong agamaNya".

Pernah juga datang utusan dari Arab Saudi namanya Prof.Dr. Attammimy salah satu diantara 70 orang yang diutus dari Arab Saudi ke Asia Tenggara. Ini juga cukup mengganggu didalam mengeksiskan Hidayatullah karena Professor Arab itu melarang masyarkat mendekati Hidayatullah karena menerima laporan masyarakat bahwa missi yang diemban Hidayatullah adalah merusak masyarkat , tanpa meneliti terlebih dahulu. Ujung-ujungnya uhammad Shabar hendak dibunuh. Inilah puncak ujian yang dia terima di tempat tugas. Tapi ada-ada saja penyebab gagalnya rencana manusia. Bahkan di balik rencana pembunuhan itu ada keuntungan yang sangat besar.

Lurah Sampit, Muhammad Alwi, orang Bugis, bermimpi ketemu tunggangan Nabi Muhammad SAW. Kendaraan itu membawa bendera yang bertuliskan kalimat syahadat. Pak Lurah Sampit mengalami rasa takut bercampir gembira. Rasa takut karena mengira Tuhan akan menimpakan bala padanya akibat adanya rencana mendirikan tempat pelacuran. Ada juga rasa gembiranya karena sepertinya Tuhan akan memberikan kebaikan padanya. Lalu bertanya kepada Shabar, apa kira-kira makna mimpi itu, Ustadz ? Shabar spontan menjawab bahwa kalimat syahadat yang Bapak lihat itu, itulah Hidayatullah yang datang kepada Bapak membawa kebaikan. Kemudian disertai penjelasan panjang lebar tentang missi yag diemban Hidayatullah. Rupanya Lurah Alwi dapat menerima penjelasan Muhammad Shabar itu.

Melihat dekatnya Muhamamd Shabar dengan Lurah itu, orang-orang yang tadinya hendak menyerang jadi mundur.

Disisi lain Lurah yang tadinya ingin membuat lokalisasi PSK (tempat pelacuran) diatas tanah seluas 600 Ha (2Km x 3Km) di batalkan. Padahal sudah dirintis dan sudah bersih tempatnya bahkan sudah dibanguni beberapa bangunan. Pintu gerbang untuk masuk di lokasi yang disiapkan untuk mendpatkan kenikmatan sejenak itu sudah berdiri; sudah ada tulisan besar pada pintu masuk yang berbunyi Ingat Istri dan Anak ! dan pada pintu keluar yang berbunyi Segeralah bertobat ! Tanah itu malah diserahkan seluruhnya kepada pesantren Hidayatullah untuk digunakan dengan harapan semoga dosa-dosanya diampuni Allah.

Ketika Muhammad Shabar mendapat penyerahan tanah yang cukup strategis tempatnya itu, semua orang heran termasuk Bupati Ketapang Drs Sumardi. Muhammad Shabar dikeroyok wartawan yang menanyakan proses penyerahan yang dianggap begitu drastis padahal rencana pembangunan lokalisasi PSK itu sudah cukup matang. Masyarakat menganggap bahwa Rupanya Ustadznya Hidayatullah seorang wali berhasil mempengaruhi Lurah itu untuk membatalkan rencananya sehingga tidak jadi meneruskan keinginan yang sudah cukup masak itu. Sehingga pada waktu usai peresmian, semua aparat Kabupaten Ketapang turun tangan membantu. Depsos membantu membangun perkantoran, Departeman Penerangan memabntu beberapa buah pesawat televisi, Dinas Peternakan membantu 110 ekor kambing, 7.000 ekor ayam, Bupati membantu sapi perah, bantuan beras dari berbagai pihak sampai berasnya sempat berulat saking banyaknya.

Kepemimpinan di Ketapang dilanjutkan oleh Ahmad Malewa didampingi oleh Afandy, Karena Muhamamd Shabar ditugaskan merintis di Sambas pada tahun 1997.

Sayang sekali di tangan Ahmad Malewa hanya 7,8 Ha yang dapat dikuasai karena sudah bersertifikat. Ratusan hektar lainnya ramai-ramai digugat oleh yang merasa berhak. Soalnya tanah di tempat itu sudah naik harganya. Sebenarnya lokasi itu milik kerajaan yang diklaim masyarakat sebagai miliknya. Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada pegangan. Bentuk penyerahannya kepada Mohammad Shabar hanya penyerahan secara lisan. Dia tidak tahu bagaimana caranya mengurus. Tidak juga menyangka kalau masyarakat akan menyerobot karena selama ini tidak pernah ada yang menggugat. Jadi Shabar santai-santai saja. Nanti setelah lokasi yang telah diserahkan itu telah di buat jalan oleh pemerintah dan harga tanah sudah menanjak, barulah ramai-ramai menggugat.